PELAJAR MENYONGSONG INDONESIA EMAS 2045

Oleh: Agha Abitha Ismanto

depokklik.com — Indonesia Emas 2045, sebagai peringatan satu abad Indonesia telah terbebas dari koloni. Menyongsong Indonesia Emas, pendidikan menjadi faktor yang sangat penting dalam memahami terbentuknya, berkembangnya, dan majunya suatu bangsa atau negara. Oleh karena itu penting sekali untuk memotivasi dan mendorong para pelajar untuk berkontribusi besar dalam terciptanya Indonesia Emas 2045.

Apa itu Indonesia Emas? Indonesia Emas adalah moment yang diupayakan pemerintah dan rakyat Indonesia untuk mempersiapkan rakyat yang berkualitas. Pada masa pandemi yang bermula sejak tahun 2020 hingga 2022, menjadi moment positif terlahirnya bibit-bibit unggul yang akan menjadi penduduk produktif pada tahun 2045. Data Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) Republik Indonesia, pada tahun tersebut Indonesia diproyeksikan memiliki produk domestik bruto (PDB) mencapai 9.100 miliar USD dan PDB per kapita sebesar 30.000 USD.

Diambil dari Indonesiabaik.id, pada tahun 2045, Indonesia juga akan mendapatkan bonus demografi, yaitu jumlah penduduk Indonesia yang 70%-nya masih berusia produktif (15-64 tahun), sedangkan sisanya, yakni 30% merupakan penduduk yang tidak produktif (usia di bawah 14 tahun dan di atas 65 tahun) pada periode tahun 2020-2045. Jika bonus demografi ini tidak difungsikan dengan baik, maka akan membawa dampak yang buruk terutama bagi kehidupan sosial, yaitu: kesehatan yang rendah, kemiskinan, pengangguran, dan peningkatan kasus kriminalitas.

Sedangkan dalam kasus pelajar, Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Indonesia (Menko PMK), Prof. Dr. Muhadjir Effendy, M.A.P., mengatakan, pelajar diharapkan bisa memiliki keunggulan tersendiri, yaitu; memiliki kompetensi akademik maupun non akademik, mental pekerja keras, integritas, dan akhlakul karimah. Hal itu diperkuat dengan pernyataan Wakil Presiden RI K.H. Ma’ruf Amin dalam pidatonya di Universitas Alma Ata dalam peringatan hari lahir Universitas Alma Ata ke-7 dan Hari Santri 2022, pelajar diharapkan bisa menjadi pemimpin yang transformatif seperti Rasulullah SAW yang mampu membawa masyarakat Arab dari zaman kegelapan (jahiliyah) menjadi umat terbaik (khairu ummah), dari yang biasa saja, hingga bisa menaklukan imperium Romawi, serta mampu mengubah kota Madinah yang dulunya adalah kampung kecil bernama Yatsrib, yang bahkan tidak dikenal menjadi kota besar yang mendunia bahkan menjadi pusat peradaban.

Jejak pandemi sebenarnya bisa dijadikan modal dalam menyokong pendidikan modern menghadapi era industri 4.0. Pelajar di Indonesia sudah mulai menerapkan sistem E-Learning, yaitu proses pembelajaran yang menggunakan media elektronik khususnya internet, namun nyatanya masih banyak yang mengutamakan E-nya dibanding Learning-nya. Sarana pembelajaran yang tersedia sudah cukup mendukung, namun sistem pembelajarannya masih berlangsung konvensional. Selain itu, pandemi seharusnya mengajarkan pelajar untuk mulai terbiasa dengan konsep blended learning, yaitu metode pembelajaran dengan menggabungkan pembelajaran tatap muka di kelas gabung dengan pembelajaran jarak jauh.

Dalam upaya mendorong Indonesia menjadi negara maju, konsep belajar blended learning bisa menjadikan pelajar lebih mandiri, leluasa, dan lebih efisien dalam mengakses modul pembelajaran. Namun, penelitian yang dilakukan oleh Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (Organization for Economic Cooperation and Development  – OECD) melalui Programme for International Student Assessment (PISA), yang merupakan penilaian internasional tiga tahunan, yang diselenggarakan dari tahun 1995-2020, dalam tiga bidang yang diuji terhadap pelajar Indonesia, hasilnya memprihatinkan: pertama, membaca — 70% siswa berada di bawah kompetensi minimum. Kedua, matematika — 71% siswa berada di bawah kompetensi minimum. Ketiga, sains — 60% siswa berada di bawah kompetensi minimum. Dari hasil penelitian tersebut menunjukkan, sekolah dasar dan menengah kita belum memadai untuk menghasilkan pelajar bermutu tinggi, tentu cukup berat untuk menyongsong Generasi Emas 2045.

Dari penjelasan di atas, masalah yang muncul sebagai berikut: pertama, apakah dengan rasio kualitas pelajar Indonesia tersebut dapat mejadikan Indonesia mencapai Indonesia emas? Kedua, bagaimana cara merealisasikan blend learning jika para pelajar masih mengutamakan e-nya dari pada learning?

Pemahaman Konsep

Secara etimologis, pendidikan berasal dari dua kata kerja yang berbeda, yaitu, dari kata educare dan educere. Kata educare dalam bahasa Latin memiliki konotasi melatih atau menjinakkan (seperti dalam konteks manusia melatih hewan-hewan yang liar menjadi semakin jinak sehingga bisa diternakkan), menyuburkan (membuat tanah itu lebih menghasilkan banyak buah berlimpah karena tanahnya telah digarap dan diolah) dan jadilah kata dalam bahasa Inggris yaitu educate yang berarti mendidik.

Dengan demikian, pendidikan merupakan proses yang membantu menumbuhkan, mengembangkan, mendewasakan, dan menciptakan sebuah kultur dan tata keteraturan dalam diri maupun orang lain. Sedangkan kata educere, merupakan gabungan dari preposisi ex (keluar dari) dan kata kerja ducere (memimpin). Maka educere merupakan kegiatan penarikan keluar atau membawa keluar.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) disebutkan bahwa pelajar adalah anak sekolah atau peserta didik. Dalam buku Nationalism and Revolution in Indonesia (2003) oleh Benedict R. O’G. Anderson, tugas warga negara Indonesia dalam mengisi kemerdekaan adalah meneruskan pembangunan negara Indonesia agar sejajar dengan negara-negara maju. Sebagai pelajar, harus dapat meneruskan cita-cita para pahlawan. Sebagai pelajar, hal utama yang dilakukan adalah belajar dengan tekun.

Sementara dalam talkshow kemahasiswaan dengan program Indonesia Emas 2045 sebagai tahun demokrasi, Dr. Rohidin menjelaskan, pada tahun tersebut, Indonesia didominasi oleh masyarakat usia produktif. Indonesia akan menyentuh usia 100 tahun pada tahun 2045. Tahun 2045 itu disebut juga dengan jendela demokrasi (window of democracy). Pada masa ini jumlah masyarakat usia produktif, usia 15 sampai 40 tahun itu lebih banyak dibandingkan dengan masyarakat di bawah 14 dan di atas 65, perbandingannya adalah 70 berbanding 30.

Ada 4 pilar pembangunan yang harus kita wujudkan dengan seksama. Pertama, ada pembangunan manusia dan penguasaan iptek, kedua, pembangunan ekonomi yang berkelanjutan, ketiga, pemerataan pembangunan, dan keempat adalah pemantapan ketahanan nasional dan tata kelola pemerintahan yang demokratis.

Dosen Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, Inda Rahadiyan, S.H., L.L.M., juga menjelaskan, kata kunci dalam Indonesia Emas 2045 adalah sumber daya manusia (SDM), karena Indonesia memiliki SDM yang sangat berlimpah. Ketika kita berbicara Indonesia Emas 2045, ada dua kata kunci, kata kunci, pertama, pembangunan sumber daya manusia atau human resource. Indonesia terdiri dari sekian puluh ribu pulau.

Terkait kata kunci kedua, dalam Indonesia Emas 2045, yaitu revolusi industri 4.0. Inti dari pada revolusi industri 4.0 itu terjadinya suatu gejala yang kita semua mengalami dan tidak bisa lepas dari itu, atau yang disebut dengan disruptive innovation. Keterkaitan antara revolusi industri dengan Indonesia Emas 2045.

Kalau kita berbicara terkait disruptive innovation, itu berarti perubahan kehidupan yang mau tidak mau sudah didisrupt oleh yang namanya teknologi, kaitannya apa dengan Indonesia Emas 2045? Di satu sisi kalau kita semua menguasai teknologi mungkin kita akan menang dan betul-betul emas di 2045.

Suatu Analisa

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) telah mendefinisikan bahwa pelajar adalah anak sekolah atau peserta didik. Menurut penulis, hal itu kurang konkret, karena pelajar adalah seseorang yang melakukan pembelajaran untuk mendapatkan kepandaian dan pengetahuan umum, serta mengembangkan kepribadian di sekolah yang dipandu oleh seorang pengajar. Memiliki tugas untuk melanjutkan perjuangan pahlawan, serta meneruskan pembangunan bangsa Indonesia agar bisa sejajar bahkan melebihi negara-negara maju. Serta dengan meneladani Rasulullah SAW sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari.

Indonesia Emas 2045 sebagai moment dari upaya pemerintah dan rakyat Indonesia untuk menciptakan dan memajukan rakyat yang berkualitas. Pemerintah menargetkan beberapa hal yang harus dicapai hingga tahun 2045, yaitu pembangunan manusia dan penguasaan iptek, pembangunan ekonomi yang berkelanjutan, pemerataan pembangunan, dan pemantapan ketahanan nasional dan tata kelola pemerintahan. Dengan kelebihan yang kita miliki, yaitu SDM melimpah yang sedang masa produktif (15-64 tahun) dan pemanfaatan revolusi industri 4.0. Namun, untuk saat ini rasio keintelektualan pelajar masih sangat memprihatinkan.

Dari rumusan masalah dan analisa di atas, dapat disimpulkan bahwa: pertama, dengan rasio pendidikan yang terpuruk, upaya untuk meraih Indonesia Emas masih memiliki waktu seperempat abad, hingga tahun 2045. Saat ini kita memiliki 70% SDM produktif yang bisa dimanfaatkan. Serta dengan pemanfaatkan revolusi industri 4.0, dengan cara menguasi teknologi dan segala bidang yang terkait yang bisa memperbaiki terpuruknya pendidikan di Indonesia, serta merealisasikan Indonesia Emas.

Kedua, saat ini kita sudah mengalami berupa disruptive innovation, yaitu perubahan kehidupan yang terjadi karena pengaruh teknologi. Tidak mungkin untuk membatasi teknologi, karena cakupannya yang terlalu luas. Maka dari itu, dengan pembangunan dan penguasaan iptek serta memberikan pelajaran spiritual agar membuat mereka tidak hanya kuat secara raga saja tapi juga spiritnya. Dengan ini bisa mencegah terjadi kesalahan dalam blend learning. (*)

(Penulis, Ketua OSIS SMP Alam Planet NuFo (Nurul Furqon) & Ketua Bidang Pembinaan Masyarakat Pelajar Pengurus Daerah Pelajar Islam Indonesia Kabupaten Rembang)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *