Bullying Di Lingkungan Pendidikan

Oleh: Agha Abitha I (Ketua OSIS SMP Planet Nufo & Ketua Bidang Pembinaan Masyarakat Pelajar PDPII Kabupaten Rembang)

Depokklik.com — Pendidikan hal penting untung memajukan suatu bangsa. Pendidikan juga merupakan aspek penting bagi masing-masing individu. Sejatinya pemdidikan dibutuhkan untuk pengembangan sumber daya manusia. Pendidikan berkaitan erat dengan berjalannya pembangunan sebab sumber daya manusia yang berkualitas akan dapat mempercepat pembangunan.

Kualitas pendidikan dalam suatu negeri bisa diukur dari taraf hidup masyarakatnya. Negara  maju memiliki taraf hidup yang jauh lebih baik dari negara berkembang. Namun saat ini Indonesia masih menyandang status negara berkembang, dengan pendidikan tergolong rendah. Bahkan banyak masalah yang menimpanya saat ini, bullying di dunia pendidikan.

Bullying menjadi hal yang sering kita jumpai entah itu di area sekolah maupun lingkungan masyarakat. Bullying merupakan sifat yang tidak terpuji serta dapat memberikan dampak buruk bagi lingkungan sekitarnya. Segala penindasan entah itu secara verbal maupun nonverbal, individu atau pun kelompok, dapat dikategorikan sebagai bullying. Para pembuli yang melakukan penindasan biasanya merasa lebih hebat dari si korban, dilakukan secara berulang semata-mata untuk bersenang-senang.

Penyebab Bullying

Berbagai permasalahan terkait dengan  kualitas guru yang rendah menjadi salah satu faktor yang menghambat perkembangan pendidikan. Guru menjadi elemen penting dalam terjadinya proses belajar mengajar. Dengan kurangnya kompetensi yang dimiliki oleh guru dapat berdampak untuk para muridnya.

Contohnya, dalam Sekolah Dasar (SD) para gurunya diharuskan untuk paham segala bidang pelajaran yang akhirnya membuat mereka kewalahan dan mengalami banyak kendala. Berbanding terbalik dengan jenjang sekolah menegah, para gurunya yang difokuskan untuk meyampaikan satu bidang tertentu sehingga mereka menjadi lebih kompeten dalam mengajar.

Selain itu, masih banyak guru yang masih belum profesional dalam bekerja. Hal ini dapat kita lihat dari perilaku buruk guru yang meninggalkan kelas saat jam pelajaran, masuk tidak tepat waktu,  bermalas-malasan, fokus dengan handphone, sibuk mengobrol denga guru lain, hingga mengabaikan para muridnya. Semua itu bisa menjadi contoh buruk untuk para murid yang sedang tahap mencari jati diri, mereka bisa saja terjerumus ke dalam keburukan hanya karena para guru yang kurang profesional tersebut.

Kurang profesional dan perhatian guru terhadap murid telah menjadi salah satu penyebab bullying di dunia pendidikan.

Memahami Bullying

Dalam bullying diberi beberapa kategori, yang pertama, verbal. Bullying jenis ini biasanya dilakukan dengan perkataan seperti: mengejek, merendahkan, mempermalukan, dsb. Kedua nonverbal langsung. Biasanya dilakukan dengan tindakan mengancam, mengejek, hingga memberikan kontak fisik.

Ketiga, kontak fisik langsung. Hal ini adalah jenis yang perlu diwasapdai. Karena, jika sudah sampai tahap ini kemungkinan memakan korban dan akan mengalami luka, entah itu berat ataupun ringan yang kemudian dapat merugikan beberapa pihak. Hal ini dilakukan denga tindakan menendang, memukul, dsb. Keempat, cyberbullying, perundungan yang terjadi di dunia maya (internet). Kelima pelecehan seksual. Hal ini masuk ke dalam kekerasan fisik yang melibatkan organ vital dan kemaluan.

Dari semua kategori buli, memiliki dampak yang pasti akan terjadi. Dampak yang terjadi bisa secara mental maupun fisik. Pelaku bullying dapat memberikan luka pada tubuh serta dapat memberi pengaruh mental bagi si korban. Jika bullying sudah masuk dalam tahap mengganggu kesehatan mental korban, hal ini dapat menyebabkan kecemasan berlebih, susah tidur, hingga percobaan bunuh diri.

Penyebab dari pembullying, selain dari yang sudah dijelaskan di atas, juga akibat keluarga yang bermasalah, lingkunga yang tidak mendukung, sekolah yang mengabaikan bullying, penggunaan media sosial yang tidak terkontrol.

Bahkan menurut pengamat pendidikan Riska Ristiani, bullying juga bisa dilakukan di dunia maya, yaitu cyberbullying. Cyberbullying atau perundungan dunia maya merupakan bullying dengan menggunakan teknologi digital. Unicef mendefinisikan cyberbullying sebagai intimidasi dengan penggunaan teknologi digital. Hal itu dapat terjadi di media sosial, platform perpesanan, platform game, dan ponsel. Ini adalah perilaku berulang, yang ditujukan untuk menakut-nakuti, membuat marah atau mempermalukan mereka yang menjadi sasaran. Berbeda dengan bullying, cyberbullying dapat meninggalkan jejak digital sebuah catatan yang terbukti berguna dan memberikan bukti untuk membantu menghentikan penyalahgunaan.

Ada beberap tipe cyberbullying, pertama, harrasment. Cyber harassment merupakan suatu tindakan yang menggambarkan bagaimana orang yang terus-menerus mengejar orang lain secara online dengan maksud untuk menakut-nakuti, mempermalukan, hingga melecehkan. Kedua, stalker. Cyber stalking merupakan tindakan penguntitan di dunia maya untuk mendapatkan informasi pribadi, meneror, bahkan melecehkan. Ketiga, flaming. Flaming merupakan tindakan intimidasi yang dilakukan secara daring di media sosial dan bertujuan untuk memprovokasi dan menyulut emosi suatu pihak.

Keempat, impersonate, yang merupakan tindakan menyamar menjadi orang lain untuk melancarkan aksi tertentu dengan mengirimkan pesan-pesan dan status tidak baik. Kelima, outing & trickery. Outing merupakan tindakan menyebarkan rahasia orang lain berupa foto pribadi seseorang sehingga dapat menimbulkan rasa malu dan depresi bagi korbannya. Sedangkan trickery adalah tindakan tipu daya yang dilakukan dengan cara membujuk orang lain untuk mendapatkan rahasia dari calon korban.

Dari cyberbullying memiliki dampak yang akan dialami korban, yaitu: secara mental, korban akan mengalami: malu, bodoh, marah, tertekan, cemas, tidak mau bersosialisasi, hingga percobaan bunuh diri. Sedangkan secara fisik akan mengalami: sakit kepala, gangguan tidur, tidak mau makan, hingga meninggal.

Jalan Keluar

Setelah mengetahui penyebab dan dampak dari bullying, berikut cara mencegah dan mengatasinya. Maryam B. Gainau dalam bukunya “Perkembangan Remaja dan Problematikanya”, menjelaskan cara mengatasi bullying di lingkungan pendidikan;

Pertama, sekolah perlu menciptakan kultur sekolah yang aman, nyaman, dan sehat sehingga anak dapat berinteraksi dengan teman-teman dengan baik. Sekolah juga perlu memberikan sanksi tegas kepada anak yang melakukan bullying sehingga anak merasa jera dan tidak melakukan bullying lagi kepada temannya. Kedua, guru dan orang tua perlu mengajarkan kepada anak atau remaja untuk menyelesaikan masalah, bukan dengan cara kekerasan dan main hakim sendiri, melainkan dengan pendekatan musyawarah bersama untuk mencari solusi yang terbaik.

Ketiga, guru perlu menanamkan nilai-nilai agama dan moral yang baik sehingga anak bisa saling menghargai dan menghormati. Keempat, guru perlu melakukan pendekatan konseling kepada anak yang mengalami bullying sehingga anak remaja tidak memiliki trauma berkepanjangan, minder, dan takut untuk bersosialisasi dengan orang lain. Kelima, guru dan orang tua perlu bekerja sama untuk menangani bullying dengan musyawarah yang baik sehingga dapat mencari solusi yang terbaik.

Kesimpulan

Dari penjelasan di atas dapat kita simpulkan dampak-dampak dan bahaya dari bullying. Anak-anak yang terkena bullying mungkin akan terkena gangguan entah itu fisik maupun mental atau mungkin akan melanjutkan jejak pembulian dengan menjadi seorang pembuli. Di zaman 4.0 ini akses internet sudah sangat mudah. Namun, apabila tidak digunakan dengan bijak maka akan berdampak buruk. Kita tidak tahu yang benar-benar melakukannya siapa, namun dalam dunia maya akan tersimpan jejak elektronik yang dapat menjadi bukti kelakuan seseorang.

Peran guru dan orang tua sangat penting dalam menghadapi bullying. Orang tua bertanggung jawab di rumah, guru di sekolah. Namun tidak menutupi bahwa faktor terpenting, yaitu lingkungan masyarkat akan menjadi penentu bagi pertumbuhan anak, masyarakat yang menciptakan lingkungan yang baik kerap menumbuhkan kesadaran anak terhadap bullying dan dapat mengetahui dampak serta bahaya yang akan dialami. Sedangkan penggunaan media sosial yang kurang terkontrol juga menjadi penentu terjadinya cyberbullying. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *