Nuroji: Perlu Tindakan Konkret Atasi Kekerasan Pelajar

Depokklik.com — Kekerasan menjadi salah satu masalah serius dalam dunia pendidikan. Hal ini dibuktikan karena keberadaan bullying yang kerap merebak di berbagai lapisan pendidikan

Sebagai contoh, kasus penganiayaan pelajar Cristalino David Ozora (17) anak pengurus Gerakan Pemuda (GP) Anshor, yang dilakukan oleh Mario Dandy Satryo (20), anak pejabat pajak, yang hingga akhirnya polisi menetapkan Mario sebagai tersangka dan ditahan. Sementara, kondisi David terkini masih terbaring koma di rumah sakit.

Atas kejadian tersebut, Anggota Komisi X DPR RI yang membidangi pendidikan, Nuroji mengatakan, perlu ada tindakan konkret untuk menyelesaikan isu kekerasan di dunia pendidikan.

“Itulah mengapa perlu ada tindakan konkret untuk menyelesaikan isu kekerasan di dunia pendidikan. Kekerasan anak di sekolah menjadi tanggung jawab semua pihak, tidak hanya sekolah,” tutur Anggota MPR RI dari Fraksi Partai Gerindra, Nuroji dalam Sosialisasi Hasil-hasil Keputusan MPR RI, di Depok, Kamis (23/2/2023).

Nuroji mengakui, kalau ada permasalahan yang dihadapi anak akan bermuara di sekolah. Oleh karena itu Nuroji mengingatkan kepada Kemendikbudristekdikti untuk memperbaiki manajemen berbasis sekolah, sehingga aktivitas anak di sekolah, masyarakat, dan di keluarga akan dikelola oleh sekolah.

“Hal pertama yang harus diperhatikan adalah mengenai peran sekolah dalam menyelesaikan kasus kekerasan. Siapa pun yang bermasalah dalam kasus ini, tentu harus menerima sanksinya,” tutur Nuroji.

Nuroji mengingatkan, kadang kala terlalu banyak pengecualian yang justru merugikan korban dan menguntungkan pelaku. Oleh sebab itu, semestinya pihak sekolah tak gentar untuk menindak tegas para pelaku kekerasan di sekolah.

“Unsur terpenting yang ada di sekolah tidak hanya terletak pada tenaga pendidikannya saja. Pusat konseling juga menjadi salah satu unsur yang tak kalah penting untuk dipenuhi. Keberadaan pusat konseling akan sangat membantu para korban kekerasan untuk berani terbuka dan berbicara. Tanpa keberadaan pusat konseling, kekerasan dikhawatirkan jadi sulit terkendali lagi,” tandas Nuroji.

Selanjutnya Anggota DPR RI Daerah Pemilihan Kota Depok dan Kota Bekasi ini menjelaskan, kemungkinan untuk mendapati kasus kekerasan sangatlah terbuka lebar. Hal ini terjadi karena di dalam satu sekolah, tentu ada banyak orang dengan watak dan karakter berbeda. Dengan demikian, sulit untuk mengatakan bahwa kemungkinan kekerasan itu tidak ada.

“Itulah mengapa pihak sekolah sebenarnya harus sigap dalam mengawasi segala kemungkinan yang terjadi. Melalui pengawasan yang ketat, kesempatan untuk melakukan kekerasan di tempat pendidikan pun dapat terselesaikan dengan baik.

Ada banyak alasan mengapa kekerasan bisa terjadi di sekolah. Bahkan, tak jarang bukan hanya guru yang bertanggung jawab atas tindakan ini, melainkan juga siswa lain yang mungkin terhubung dengan perilaku kekerasan,” pungkas Nuroji. (eza)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *