Nuroji: Pemimpin Harus Meletakkan Etika di Atas Segalanya

Depokklik.com — Kasus guru SMK di Cirebon, Muhammad Sabil yang melontarkan kritik kepada  Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil saat mengenakan jas berwarna kuning, saat berkomunikasi dengan sejumlah siswa SMP di Tasikmalaya secara virtual, viral dia media.

Sabil menilai jas berwarna kuning yang dikenakan oleh Ridwan Kamil adalah simbol dari salah satu partai politik. Sehingga tidak pantas untuk digunakan ketika sedang berhadapan dengan lingkungan sekolah. Atas kritiknya tersebut, Muhammad Sabil harus menerima pemecatan dari sekolah tempatnya mengajar. Tentu saja pemecatan terhadap guru Sabil oleh sekolah karena sekolah merasakan mendapatkan tekanan dengan tidak senangnya Gubernur Ridwan Kamil.

Menanggapi sikap Gubernur Ridwan Kamil terhadap guru Sabil, Anggota Komisi X DPR RI yang membidangi pendidikan, dari Fraksi Partai Gerindra, Nuroji menilai, tindakan yang dilakukan oleh Ridwan Kamil cenderung melepaskan nilai etika kepemimpinan dan justru menggunakan kekuasaan.

“Semestinya Pak Gubernur Ridwan Kamil lebih mengedepankan etika kepemimpinan. Hendaknya memecahkan masalah dengan rendah hati, menghindari pemaksaan kehendak, dan menghargai kritikan orang yang dipimpinnya. Jangan justru mengedepankan kekuasaan,” tutur Nuroji dalam Sosialisasi Hasil-hasil Keputusan MPR RI, di Depok, Kamis 23 Maret 2023.

Selanjutnya Anggota MPR RI itu mengingatkan, harusnya ketika menghadiri acara kedinasan, pakaian yang dipakai tak boleh menggambarkan salah satu partai. Kalau dia menggunakan pakaian dinas atau pakaian pada umumnya, mungkin masalah ini tak akan terjadi. Ridwan Kamil tak memiliki etika ketika melakukan zoom meeting tersebut.

“Ketika acara kedinasan, apalagi di sekolah, Ridwan Kamil seharusnya tidak menggunakan atribut partai. Jadi menurut saya masalah utamanya ada di Ridwan Kamil sendiri. Pak Ridwan harus mampu menempatkan diri sesuai kedudukannya,” tandas Nuroji.

Nuroji juga memprihatinkan dengan bergesernya narasi menjadi penggunaan kata ‘maneh’ yang ia tuliskan dalam kolom komentar akun Instagram Ridwan Kamil. Padahal esensi kritik yang dilontarkan Sabil ke Ridwan Kamil sangat penting dan krusial sekali, yaitu Ridwan Kamil tidak netral ketika menghadiri acara kedinasan.

“Sudah seharusnya sebagai Gubernur Jawa Barat, Pak Ridwan Kamil bisa memberi contoh yang baik tentang mentalitas yang benar sebagai pemimpin. Justru saat ini isunya bergeser ke cara Sabil bertanya. Penggunaan kata ‘maneh’ bisa menjadi perdebatan yang panjang karena sebagian besar orang Cirebon atau Pantura biasa menggunakan kata ‘maneh’,” tandas Nuroji.

Selanjutnya Nuroji mengingatkan, langkah pemecatan terhadap Sabil tidak tepat. Meski Ridwan Kamil mengklaim ia tak memiliki kewenangan di sekolah swasta, namun jabatan politis yang dimilikinya bisa memulihkan hak dan kewajiban Sabil. Dalam posisi ini, jika Sabil tak bisa lagi memiliki pekerjaannya lagi, harusnya Ridwan Kamil bisa mencarikan posisi yang pas buat dia.

“Pak Ridwan Kamil semestinya bertanggung jawab, jika Sabil kehilangan pekerjaan. Publik bisa kehilangan kepercayaannya kepadanya jika ia telah melakukan kezaliman,” pungkas Nuroji. (is/ir)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *